Cerita sebuah Pos Jaga

Soal “berapa per M2″ ini pun pernah menjadikan saya kesulitan dan difitnah.

Ketika saya menjadi Ketua RT dan berinisiatif membuat Pos Jaga di Pintu Gerbang Utama dari sebuah cluster, dimana cluster tersebut terdiri dari 5 RT. Maka saya lalu membuat desain Pos Jaga dan Gerbang Pintu Masuk Keluar tersebut dengan luas 12m2. Tak lupa membuat Rencana Anggaran Biaya yang mencapai 60 juta rupiah.

Setelah itu saya keliling ke semua Ketua RT yang lain, meminta partisipasi untuk pembangunan Pos Jaga tersebut. Bantuan dari 4 RT lain, hanya terkumpul 10juta rupiah. Apa sebab, karena ternyata muncul isu bahwa saya korupsi. Masak untuk membangun sebuah Pos Jaga saja menghabiskan 5juta per m2 ?! Rumah saya saja yang bagus cuma 3juta per M2, begitu bumbu2 gosipnya. Mungkin si penebar fitnah mendapatkan angka tersebut dari 60juta / 12m2 tanpa melihat komponen pembiayaan yang ada dalam Rencana Anggaran Biaya tersebut !


Kenapa bangunannya begitu mahal ? Karena pos jaga tersebut di bangun di atas sebuah kali besar yang membelah jalan masuk dan jalan keluar cluster tersebut dengan lebar kali 3m. Artinya saya harus membuat 2 plat lantai yang di cor beton, satu untuk lantai, dan satu untuk dak atap. Lalu di sekeliling dinding bangunan memakai jendela besar dgn kusen aluminium dimana untuk itu saja menghabiskan 9juta rupiah setelah ditawar dari tadinya 11juta yang diminta subkon kusen aluminium. Kemudian saya juga membuat dinding penahan untuk gerbang pintu masuk dan keluar dengan tinggi 3m dan lebar 1m sebanyak 2 buah.

Selanjutnya saya juga memasang 3 tiang bendera setinggi 8 m, dan tentu saja merapikan bidang tiang bendera tsb yang berada di depan pos jaga. Dan tak lupa membuat Gerbang Pintu Masuk dan Keluar sejumlah 2 buah dengan tinggi 3 meter Lebar 5,5 meter senilai 15juta. Beruntung pihak pengembang perumahan bersedia menyumbang untuk 2 gerbang tersebut.

Beruntung di RT saya sendiri, gonjang ganjing ini berakhir setelah seorang arsitek lain meminta Rencana Anggaran Biaya dan Gambar, serta men check nya. Si Arsitek mengangguk angguk setuju dan mengatakan bahwa RAB ini wajar dan tidak ada aksi mengambil untung. Tapi fitnah telah meluncur deras di RT lain tanpa bisa dihadang. :-)

Sudah dibaca 1112 kali. Terima kasih!

Artikel Lainnya:

Leave a Reply