Berkebun Sayur di Lahan Sempit

Asal muasalnya adalah sewaktu saya menghadiri resepsi pernikahan Fatia, seperti biasa tamu kan dapat souvenir. Dan kali ini souvernirnya adalah botol kaca kecil yang dibungkus cantik. Penasaran saya perhatikan isi botol kecil tersebut, ada label bertulisan kecil “Kangkung” …. Ha? Kangkung?

Buru-buru saya buka kantung berenda pembungkus botol kecil tersebut untuk melihat lebih jelas, dan ternyata souvenirnya adalah bibit sayuran, dilengkapi dengan print-an petunjuk penanaman dan perawatan bibit sayur tersebut. AWESOME !! …

Dan ketika resepsi hampir usai, saya pun menghampiri meja penerima tamu dan melihat masih cukup banyak souvenir bibit dalam kotak souvenir di atas meja. Tanpa malu-malu, saya meminta sisa bibit yang ada untuk saya bawa pulang. Karena penerima tamu-nya teman sendiri, tentu saja saya dipersilakan untuk mengambil sebanyak yang saya inginkan … Asiiik, bisa berkebunnn niih!

Saya memang senang berkebun sejak kecil. Bahkan sewaktu kelas 4 SD dulu, saya sudah punya lahan selebar 3×4 yang isinya puluhan kaleng bekas yang saya tanami beraneka ragam kaktus. Saya lupa bagaimana awalnya sehingga saya memiliki kaktus-kaktus itu. Yang jelas, saya senang menanam kaktus karena bentuknya yang unik dan kaktus relatif mudah dibiakkan dan tidak memerlukan perawatan khusus. Yaaa secara anak kelas 4 SD gitu loh …

Tapi dulu rumah orangtua saya memang berhalaman sangat luas. Saking luasnya, sampai ada lapangan bulu tangkis di halaman rumah. Sekarang rumah saya halaman depannya hanya sekitar 3×1.5 meter saja :D Cuma punya halaman sempit di rumah, bukan alasan buat saya untuk tidak berkebun sayur. Dimana ada keterbatasan, di situ muncul kreativitas, kan? hehehe …

Pot Sayuran

Saya pun membeli pot-pot plastik untuk menanam bibit sayur yang saya “borong” dari resepsi-nya Fatia. Saya memilih pot plastik karena ringan sehingga mudah untuk dipindah-pindahkan. Kalau mau yang benernya sih sebaiknya pakai pot dari tanah liat. Selain tidak menambah sampah plastik, pot tanah liat juga memiliki pori-pori – lebih sehat untuk tanaman. Next time saya ingin mencoba memanfaatkan botol plastik dan kaleng bekas. Itung-itung memanfaatkan kembali sampah yang tak bisa terurai oleh alam …

pot sayur di tanah

Ya amppunn senangnya saya melihat bibit-bibit sayur souvenir Fatia ini tumbuh sangat subur di dalam pot. Tengkiuuu beraaatt Faaat!

Tidak ada yang merepotkan dari menanam sayur ini. Saya hanya membeli media tanam siap pakai. Lalu bibit saya semaikan dalam satu pot dan disiram teratur pagi dan sore. Tanaman mudah jangan terlalu banyak disiram air, yang penting tanahnya terlihat basah. Biasanya seminggu kemudian sudah mulai bermunculan tunas-tunas mungil dari dalam tanah.

Setelah tunas muda terlihat kuat, biasanya tinggi sekitar 2-3 cm, baru saya mulai pisahkan ke masing-masing pot seperti terlihat pada gambar di atas supaya bisa tumbuh sehat dan tidak rebutan tempat. Karena tanahnya masih subur, saya tidak melakukan pemupukan ulang, hanya disiram air sampai saya panen. Tapi biasanya setelah 3x panen, tanah di dalam pot saya keluarkan dan saya aduk lagi dengan kompos atau pupuk kandang sebelum saya gunakan lagi untuk bertanam sayur.

Nah setelah beberapa kali berkebun dan panen, saya mulai belajar menghadapi aneka serangan hama tanaman. Mulai dari pot diaduk-aduk kodok atau tikus, tanaman dimakan bekicot dan belalang, sampai ke kutu-kutu putih entah darimana asalnya. Tapi memang yang paling mengesalkan itu adalah bekicot dan kodok, karena mereka menghabiskan semua tunas sayur yang sudah siap dipindahkan … ARRGGGHH!!

Bingung mau diapain tuh bekicot dan kodok, karena tiap hewan tersebut disingkirkan maka esok paginya sudah muncul lagiii … hiiiyyy!

Sampai suatu hari saya melihat SALE di Ace Hardware. Dan salah satu barang yang di-Sale adalah mini green house alias kelambu tanaman seperti gambar di bawah ini …

mini green house

Dengan kelambu seperti ini, tanaman terhindari dari hewan-hewan pengganggu tersebut. Dan ada kelebihan lainnya, yaitu, kalau hujan lebat, saya tidak perlu tunggang langgang memindahkan pot-pot yang berisikan tanaman muda. Udah tau kan kalau hujan lebat bisa bikin tanaman muda “tewas” ?

Dari hasil kebun mungil ini, kebutuhan sayur sehari-hari saya bisa terpenuhi. Dan yang paling membuat saya senang adalah anak saya yang tadinya susyiaaah beneer kalau diminta untuk makan sayur, eeeh sekarang malah dengan suka cita memilih dan memetik sendiri sayur yang ingin ia makan. Senang kaaan?

Nah ternyata lahan sempit bukan alasan untuk tidak memulai berkebun kan?

Sudah dibaca 30945 kali. Terima kasih!

Artikel Lainnya:

Leave a Reply